PATRIOTRAYA.COM: Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi di beberapa provinsi di Indonesia. Tahun lalu, 2015, Karhutla juga terjadi, bahkan menyita perhatian negara tetangga. Kini, 2016, Karhutla kembali terjadi. Ada apa sebenarnya?

Kebakaran hutan dan lahan itu terjadi di lahan perkebunan masyarakat, perkebunan swasta, hutan dan semak belukar. Ada indikasi kebakaran hutan disengaja, untuk membuka lahan baru.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Jumat (12/3/2016), ada 182 titik api yang melanda kawasan hutan dan lahan di seluruh wilayah Indonesia.  

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho membeberkan, pihaknya telah mengantisipasi menghadapi Karhutla dengan berkordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota yang memiliki daerah rawan karhutla, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. 

"Rapat koordinasi sudah dilakukan berkali-kali. Posko penanggulangan karhutla juga didirikan," ujar Sutopo, Minggu (13/3/2016).

Bahkan, status siaga darurat bencana Karhutla juga sudah ditetapkan di Provinsi Riau dan 6 kabupaten di dalamnya. Tim gabungan Satgas Penanggulangan Karhutla dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, perusahaan perkebunan dan pemadam kebakaran juga langsung turun ke lapangan saat terjadi karhutla. 

"Ratusan sekat kanal telah dibangun. Memang ada peningkatan hotspot di Riau dan Kaltim (Kalimantan Timur)," ujarnya. 

Kata Sutopo, di Riau dan Kaltim, kondisinya cukup kering sehingga mudah terbakar. "Kebakaran terjadi akibat ketelodoran dan disengaja dibakar untuk pembukaan lahan," terang Sutopo. 

Sutopo menambahkan, beberapa oknum masyarakat juga telah ditangkap. Berdasarkan pengakuan mereka, beberapa mengatakan bahwa semak belukar dan hutan yang ada milik umum sehingga dibakar untuk dijadikan kebun. Ada juga yang lahan milik masyarakat dibakar untuk persiapan kebun.

"Pencegahan tahun ini lebih baik dibandingkan sebelumnya. Memang tidak mungkin mengenolkan hotspot karena terkait dengan masalah ekonomi, sosial dan budaya," ucapnya.

182 hotspot yang terdeteksi BNPB berada di Aceh (28 hotspot), Bengkulu (1 hotspot), Jambi (2 hotspot), Jawa Timur (4 hotspot), Kalimantan Tengah (2 hotspot), Kalimantan Timur (81 hotspot), Kalimantan Utara (7 hotspot), Nusa Tenggara Barat (1 hotspot), Nusa Tenggara Timur (3 hotspot), Riau (26 hotspot), Sulawesi Selatan (5 hotspot), Sulawesi Tengah (15 hotspot), Sulawesi Utara (1 hotspot), Sumatera Selatan (2 hotspot), dan  Sumatera Utara (14 hotspot). HAS

Nasional

Menperin: Tak Ada PHK, Justru Tambah Lapangan Kerja

PATRIOTRAYA.COM. Di tengah isu pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, kemarin Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mendatangi PT Asahimas Chemical di Cilegon, Banten. Bersama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani,

Read more ...
 

Ikaluin Bekasi Raya: Tuty Alawiyah Sosok Tawadhu, Semangatnya Patut Ditiru

PATRIOTRAYA.COM: Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Tuty Alawiyah telah menghembuskan nafas rabu (4/5) di RS MMC Jakarta. Tampak kehilangan dari seluruh masyarakat muslim Indonesia.

Read more ...
 

Ribuan Pengemudi Taksi Konvensional Demo Bubarkan Taksi Aplikasi

PATRIOTRAYA.COM: Ribuan pengemudi taksi dari berbagai perusahaan di Jakarta, hari ini Selasa (22/3/2016) menggelar aksi demonstrasi menuntut taksi aplikasi ditutup. Selain taksi, para pengemudi kendaraan plat kuning lainnya ikut meramaikan aksi tersebut.

Read more ...